Prinsip kepemimpinan Rasulullah Muhammad saw
Suara Hatiku
Hatiku
terkoyak…….
Permasalahan bangsa ini semakin hari semakin
mengoyak nurani menembus pedih kedalam hati yang paling dalam, rasa
kemanusiaan,
dan nurani,rasa persaudaraan,rasa persahabatan habis terkoyak oleh
rasa ambisi yang tak pernah henti..sampai kapankah kita bisa melihat kedamaian…dimana
kita hidup saling menghormati,saling memakmurkan,saling menyampaikan kebaikan
dan saling menyampaikan harapan kemanusiaan..
Negara dengan segala alat peralatannya seakan pongah
berlaku semena-mena,tak lagi menghargai rakyatnya yang untuk hidup
sehari-harinya saja sudah mengeluarkan segenap energy dan pikirannya..masih
saja diusik dan terusik dengan sebuah alasan “pembangunan dan modernisasi”..bukan
anti pembangunan karena memang hidup terus bergerak maju dengan segala dinamika
dan perubahan,akan tetapi kita pun harus
ingat semua ini tentunya untuk hidup dan kehidupan kita di alam semesta ini.Tak
adakah luang lagi kita duduk bersama berbicara dan membahas langkah dan solusi
yang membuahkan berkah dan rahmat?...
Wakil rakyat..seakan duduk terdiam membuat Undang-undang
yang katanya mewakili rakyat…hidup diawali sebuah janji akan memperjuangkan
hak-hak rakyat..dimanakah kita
sesungguhnya sekarang sedang berada…apakah jeritan dan tangisan tak lagi dapat
menembus dinding gedung yang kokoh..
Dimanakah
kita sedang berada sekarang………?
Tak di kota besar tak dikampung tak diujung
hutan…masih saja rakyat diusik dan terusik…….Kita takkan berbicara para
koruptor..karena sudah sudah jelas mereka itu penjahat yang terus menghancurkan
Negara dan bangsa…tidak ada dalih dan alasan lagi,karena mereka bukan rakyat
jelata yang sehari-harinya berjuang untuk kehidupannya yang susah…mereka adalah
yang duduk dengan tenang diruangan ber AC dan duduk diatas kursi empuk sambil
tumpang kaki…..bukan cemburu dengan kehidupan mereka akan tatpi terusik dan merasa
di usik karena Negara ini milik kita bersama…
Ditulis Oleh : Admin

0 Komentar untuk "Prinsip kepemimpinan Rasulullah Muhammad saw Suara Hatiku"